Peranan Besar Wisata Dongeng untuk Anak-Anak

Peranan Besar Wisata Dongeng untuk Anak-Anak

Peranan Besar Wisata Dongeng untuk Anak-AnakSumber keceriaan ada pada anak-anak. Merekalah malaikat kecil yang masih begitu hijau dan perlu pertumbuhan. Mereka sangat suka wisata dongeng dan berbagai ilmu yang imajinatif. Mereka hanya tahu hal-hal menyenangkan. Segala sesuatu yang bikin kening berkerut, mereka pencarkan menjadi tawa kecil yang renyah. Apakah ada yang rela keceriaan itu terenggut oleh zaman?

Pada hakikatnya, anak-anak hanya pandai meniru. Setiap perbuatan orang dewasa, sebisa mungkin mereka duplikasi berdasarkan penafsiran mereka sendiri. Tidak lebih tidak kurang. Proses pertumbuhan moral mereka sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan akumulasi dari kegiatan meniru tersebut. Salah satu media efektif untuk menanamkan moral baik untuk anak-anak adalah melalui dongeng.

Anak-anak memang hanya diberi jatah untuk bermain-main sampai menjelang remaja. Tetapi bukan sekadar main. Permainan yang sekadar main jumlahnya terlalu banyak dan sulit sekali untuk diterapkan semuanya. Mayoritas keberadaan permainan itu fungsinya cuma menghibur saja. Tanpa mengandung peristilahan lain seperti edukatif, inspiratif, maupun komunikatif.

Melalui dongeng, anak akan belajar memahami peran. Setiap dongeng pasti ada peran antagonis dan peran protagonis. Tetapi mereka masih perlu bimbingan yang cukup serius untuk memahami dua peran tersebut. Maka dari itu, sebagai orang dewasa, sudah selayaknya turut aktif mengedukasi lewat pengertian demi pengertian apabila mereka mengalami kesulitan. Terutama dalam memahami hal-hal baru.

Dongeng sangat kaya akan pesan moral. Namun khusus untuk anak-anak, penuturan dongeng harus jelas, tetapi tidak menghilangkan sisi-sisi menarik. Cara paling tepat tentu saja dengan membacakan langsung. Disertai ekspresi untuk memperkuat dongeng yang disampaikan. Dongeng bisa diambil dari majalah, koran, atau dongeng klasik. Kalau mau yang lebih kreatif bisa dengan bikin sendiri.

Proses pembacaan dongeng masih sangat jarang dilakukan masyarakat Indonesia terhadap anak-anak mereka. Mayoritas berpandangan bahwa sang anak sudah cukup hanya dengan belajar di sekolah. Tentu saja tidak. Peran pendidikan dasar dari kalangan keluarga justru yang lebih penting. Anak-anak jauh merasa lebih dekat dengan orang tua mereka ketimbang orang lain.

Untunglah, para pegiat dongeng nasional mulai bermunculan. Mereka mendongeng untuk anak-anak secara sukarela. Sebut saja Kak Awam, Kak Bimo, Kak Iman, Kak Aiyo, Kak Heru, dan Kak Resha. Mereka sangat aktif berbagi cerita dan ceria dengan dongeng. Banyak anak-anak yang memperhatikan dengan serius. Mereka sangat mudah berempati terhadap dongeng. Di sinilah letak hijaunya anak-anak.

Saat anak masih kecil, kesempatan untuk membentuk kepribadian baik sangat terbuka lebar. Sampai-sampai, seorang jurnalis asal Tangerang bernama Kang Budi melakukan dongeng keliling. Ia menyampaikan dongeng dengan dominasi warna jenaka. Tak ayal, anak-anak pun terpingkal-pingkal dibuatnya. Daripada bermain video games, membaca atau menyimak dongeng jauh lebih bermanfaat untuk anak-anak.

Read Another Post :